|
Skala vs Interval Lajur
Mungkin ada dalam benak kita bahwa apabila skala survey 1:1000 misalnya, maka interval lajur survei maksimum 10m; atau apabila interval lajur survei 10m, maka skala survei 1:1000, khususnya pada pelaksanaan survey batimetrik menggunakan Single Beam Echo Sounder (SBES). Batasan-batasan tersebut sering kita lihat dalam spesifikasi teknis pekerjaan survei, tetapi manakah yang sebenarnya menentukan. Apakah skala menentukan interval lajur-lajur survei atau sebaliknya...?. Tulisan berikut akan memberikan jawaban manakah yang sebenarnya menentukan,
Skala berarti berkaitan dengan peta, yaitu gambaran sebagian atau keseluruhan permukaan bumi dalam bidang datar atau bidang peta. Atau skala berarti adalah perbandingan antara satuan diatas bidang peta dengan ukuran sebenarnya di permukaan bumi. Misalnya peta skala 1:1000, berarti 1 cm di atas peta, ukuran sebenarnya di permukaan bumi adalah 1000 cm (atau 10m). Karena peta adalah gambaran dari permukaan bumi, maka peta yang ideal harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Ketelitianya: artinya dalam proses pembuatan peta harus memenuhi tingkat ketelitian sesuai dengan kebutuhan. Misalnya peta-peta untuk keperluan pekerjaan rekayasa, tingkat ketelitiannya lebih baik dari 1m atau bahkan 10cm. Hal ini dapat dicapai hanya apabila peralatan yang digunakan dan metode yang dipilih mampu untuk mencapai ketelitian tersebut;
2. Kenyataanya: artinya apa yang ada dipermukaan bumi dapat "digambarkan" di atas peta. Apabila ada sungai, maka diatas peta juga harus ada sungai. Pernyataan ini mungkin terasa ganjil, tetapi dari beberapa pengalaman obyek-obyek yang seharusnya ada tetapi tidak tergambar. Salah satu penyebabnya adalah pemilihan metode survei yang kurang tepat;
3. Kelengkapanya: artinya obyek atau detail yang ada dipermukaan bumi dapat digambarkan dengan lengkap di atas peta. Mungkin saja obyek-obyek penting telah dipetakan, namun tahap pengolahan data dan penggambaran tidak dilakukan dengan baik sehingga luput tergambar diatas peta. Hal ini sangat dimungkinkan karena di beberapa institusi/lembaga, tim pengolah data adalah orang yang berbeda dengan tim pengumpul data.
Agar ketiga syarat diatas dapat dipenuhi, interval lajur-lajur survey haruslah dijalankan dengan interval serapat mungkin, khususnya apabila menggunakan alat perum-gema single-beam, agar tidak terdapat kekosongan data atas obyek-obyek penting (misalnya adanya kedangkalan di dasarlaut yang berubah mendadak-pinacle rock).
Jenis dasarlaut juga menjadi pertimbangan dalam menetapkan interval lajur survey. Dasarlaut lumpur atau pasir, secara alamiah biasanya tidak terdapat tonjolan-tonjolan yang mendadak, sehingga interval lajur survei dapat dipilih lebih lebar dibandingkan dengan dasarlaut banyak karang/batu. Dengan adanya alat perum-gema multibeam dan side scan sonar, maka isu mengenai interval lajur sudah dapat dikurangi. Pada pengoperasian multibeam, yang lebih menentukan interval lajur-lajur survei justru kedalaman air, dan bukan jenis dasarlaut. Semakin dalam airnya, semakin lebar interval lajur surveynya - secara umum interval lajur survei multibeam 2-5 kali kedalaman air.
Posted by Heri SB, 25 December 2008
Tip membeli alat survey-GPS (1)
GPS, atau singkatan dari Global Positioning System, adalah sistem alat untuk menentukan posisi geografis berbasis satelit navigasi. Sedangkan untuk menentukan posisi geografis tersebut, kita gunakan alat yang dikenal dengan GPS receiver. Di pasaran Saat ini, terdapat GPS receiver dalam berbagai model/tipe dari berbagai pabrikan juga. Setiap pabrikan ternyata fokus pada aplikasi tertentu, yang secara umum dapat dibagi menjadi: navigasi dan survey.
Dengan banyaknya jenis/model/tipe GPS receiver dipasaran, boleh jadi tidaklah mudah bagi seseorang untuk memilih model/tipe yang sesuai dengan kebutuhannya. Beberapa tip berikut bisa dijadikan pertimbangan:
1) Aplikasi: aplikasi berhubungan dengan tujuan; dan tujuan sangat erat dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan; misalnya dalam indutri survey pemetaan yang diterima secara internasional apabila mengacu pada SP-44 IHO. Untuk penetapan titik kontrol (benchmark) misalnya, ketelitian yang disyaratkan adalah dalam satuan milimeter atau centimeter. GPS receiver yang mampu mencapai ketelitian tersebut adalah tipe "survey grade, dual frequency".
2) Cara penyimpanan data. Tidak semua GPS receiver didesain dapat atau perlu menyimpan data di dalam alat. Receiver yang dapat menyimpan data dilengkapi dengan internal memory atau memori yang dapat ditambahkan, semisal compact flash. Tetapi tidak semua aplikasi memerlukan penyimpanan data di dalam memori receiver, karena boleh jadi datanya disimpan di komputer, misalnya pada aplikasi survey pemetaan batimetik. Oleh karena itu apabila penggunaan GPS receiver hanya untuk keperluan survey pemetaan laut, pada prinsipnya tidak diperlukan internal memory.
3) Data input. Teknik penentuan posisi secara real-time dalam survey pemetaan yang banyak digunakan adalah teknik DGPS dan RTK. Bila aplikasi ini yang dipilih, maka receiver tersebut harus mempunyai fasilitas dapat menerima signal DGPS dan/atau RTK. Tidak semua receiver didesain untuk aplikasi semacam ini, misalnya tipe hand-held dari merek tertentu. Agar teknik ini dapat berfungsi, receiver harus memiliki minimal 2-port yang nantinya masing-masing akan dihubungkan ke komputer dan ke modem.
4) Data output. Hampir semua alat survey kini didesain memiliki data digital. Tinggal permasalahannya, apakah data digital dalam receiver dapat dikeluarkan untuk keperluan tertentu apa tidak. Untuk menunjang kegiatan survey pemetaan, diperlukan receiver yang dapat dihubungkan dengan komputer, yang biasanya menggunakan standar format protocol NMEA.
5) Jumlah kanal. Jumlah kanal (channel) menunjukan berapa jumlah satelit yang dapat diterima dalam satu waktu. Receiver yang ada dipasaran saat ini mempunyai kanal minimal 12 kanal; semakin banyak kanal akan semakin mampu menerima jumlah satelit pada saat yang bersamaan, yang pada akhirnya dapat memberikan tingkat ketelitian posisi lebih baik. Merek tertentu bahkan memiliki jumlah kanal hingga 72 kanal. Lebih-lebih saat ini terdapat lebih banyak satelit navigasi: GPS, Glonnass dan Galileo (baca Referensi).
6) Kemampuan update data. Update data, termasuk waktu dan posisi, paling lambat biasanya setiap 1 detik (1 hz). Agar dapat diperoleh data lebih rapat untuk menyesuaikan kecepatan bergerak wahana survey (misalnya pesawat pada pemetaan udara atau kapal pada pemetaan di laut), kini beberapa merek receiver mempunyai update rate data hingga 20 kali per detik (20 hz). Kecepatan update rate yang tinggi tersebut juga sangat diperlukan pada alat-alat survey yang memberikan data "geo-reference" seperti multibeam echosounder, side scan sonar survey dan subbottom profiling.
Kombinasi kemampuan tersebut diatas menyebabkan harga GPS receiver sangat bervariasi mulai dari Rp. 2 juta hingga Rp. 200 juta per unit-nya. Kita jangan terkecoh dengan harga murah karena dipastikan yang murah tidak akan mampu untuk aplikasi survey yang menuntut ketelitian tinggi. Dengan demikian sebelum memilih, tetapkan terlebih dahulu aplikasi-nya.
Untuk mengetahui kemampuan GPS receiver dari berbagai merek, kumpulkan spesifikasi teknis-nya dan amati satu per satu dengan petunjuk di atas dan bandingkan. Bila perlu cari referensi dari kawan-kawan Surveyor yang telah menggunakan. Salah satu indikasinya, bila mereka telah menggunakan dalam jangka waktu lama (misalnya lebih dari 5 tahun), dapat dipastikan model atau merek tersebut telah teruji (proven).
Posted by Heri SB, 26 December 2008
|